Keseimbangan
May 23rd, 2008
Ada kata-kata bijak yang kutemukan pagi ini dalam sebuah posting di satu milis, yaitu: “untuk mencapai keseimbangan, kita harus terus bergerak…bergerak dan terus bergerak, seperti sepeda”.
Temanku yang lain menulis status di ym-nya seperti ini,” Don’t let someone become a priority in your life when you are just an option in their life. Relationship work best if they are balanced”.Â
Agak sedikit berbeda, namun intisari keduanya sama:Â Â soal keseimbangan. Hidup memang harus seimbang, antara bekerja dan bermain, antara urusan luar rumah dan dalam rumah. Â Relationship juga harus seimbang, Â kalau tidak, pasti akan memberi beban, dan tak nyaman dijalaninya.Â
Nah, apakah hidup kita sekarang ini seimbang? Apakah relationship kita juga seimbang? Cuma kita yang bisa menjawab…………….jika jawabannya tidak, segera lakukan sesuatu untuk menyeimbangkannya.
Saat aku memilih “diam”.
May 23rd, 2008
Kata orang, aku “bawel” dan cerewet. Tapi aku lebih suka menyebut diriku  ceplas-ceplos. That’s me. Kalau aku nggak suka ya kubilang aja nggak suka, kalau menyenangkan ya pasti kubilang senang. Makanan enak, pasti kubilang enak, dan sebaliknya. Kalau mau marah, ya akupun marah, begitu sebaliknya, kalau aku mau memuji, ya pasti kulakukan sesegera mungkin. Walau memang, pekerjaan dan lingkungan, tidak selalu bisa disikapi dengan  ceplas-ceplos begitu saja.
Namun, jika menghadapi tim, aku lebih suka bersikap ceplas ceplos dan apa adanya. Timku dan sahabat-sahabatku sudah hafal karakterku  itu. Kalau aku membantu orang lain, itu tulus kulakukan. Kalau aku mau ngajarin orang, pasti aku lakukan secara total. Apalagi kalau orangnya memang punya minat belajar yang tinggi, dan otaknya mendukung. Dan, kalau ada yang salah pun pasti ku tegor/ingatkan…..sekali, dua kali, tiga kali, atau sebatas kesabaran dan toleransiku. Mereka tahu, walau aku marah (besar sekalipun), jika aku masih mau “cerewet” dan menegor/mengingatkan kesalahan mereka, itu artinya aku masih care atau peduli dan sayang.
Namun, ada kalanya, kesabaranku habis, saat aku sudah jengkel banget, pol-polan. Artinya, sudah tak ada lagi yang bisa dijadikan bahan untuk marah, atau negor sekalipun. Itu bisa terjadi jika aku sudah bosan menegor untuk kesalahan yang sama misalnya.
Kalau sudah begitu, aku lebih suka memilih diam, diam dan diam. Ketimbang ngomel, hanya buang energi, dan nggak ada manfaatnya. Ya mending diam…..dan berharap aku melupakan kesalahan yang ada. Tak menyelesaikan masalah? Mungkin tidak, tapi setidaknya aku jadi lupa pada si pembuat kesalahan atau yang bikin aku jengkel………………….dan energinya bisa kupakai beraktifitas yang lain.  EGP lah……………
Wiraswasta itu tukang tambal ban
April 2nd, 2008
Seorang pasien yang datang ke Klinik Lentera — sebuah balai pengobatan murah yang diperuntukkan bagi kaum papa di wilayah Pamulang –  mengisi form pendaftaran. Dengan penuh percaya diri lelaki berusia sekitar 35 tahun ini mengisi kolom pekerjaan dengan wiraswasta. Giliran menebus obat, lelaki tadi, sebut saja namanya Slamet, merogoh kantong kirinya, lalu kanan, menghitung setiap lembar ribuan kucel yang ada.
“Berapa bu”? tanya Slamet kepada ibu di konter obat. “Dua puluh ribu, untuk periksa dan obat,” jawab ibu “obat” tersebut. Lalu, Slamet kembali menghitung lembar demi lembar uangnya. “Ini ya cuma  ada dua puluh ribu,” jawab Slamet sambil menyerahkan uangnya. Setelah transaksi selesai, Slamet masih berdiri di depan konter obat, lalu dengan lirih ia berujar,”Bu, boleh saya minta dua ribu untuk ongkos pulang?”. Setelah menatap Slamet dengan seksama, ibu “obat” pun mengulurkan uang 2 ribu. Lalu ia bertanya,”bapak apa kerjanya.” Dengan lirih, Slamet pun menjajab,”tukang tambal ban”.
Setelah Slamet meninggalkan tempat, petugas pun membaca ulang status Slamet. Di kolom pekerjaan tertulis, pekerjaan: wiraswasta. Tidak salah sih.  Siapapun pasti menginginkan status yang bergengsi. Namun, sejatinya, jika Slamet dan Slamet-Slamet yang lain tahu, di klinik seperti Lentera, isian yang jujur barangkali akan lebih menguntungkan. Karena, dengan menilik kondisi ekonomi sosial pasien, manajemen klinik akan memberikan tarif lebih khusus lagi. Kendati tarif yang diberlakukan di klinik tersebut memang sudah khusus (lebih murah) termasuk dengan Puskesmas sekalipun.
Tak cuma Slamet saja yang memanupulasi data. Banyak pasien yang melakukannya. Ada yang mengisi pekerjaan: swasta. Sejatinya, dia  adalah butuh cuci, tukang becak, dan lainnya. Fakta biasanya baru terkuak  saat ada  dialog di depan konter pembayaran obat. Dan memang petugas harus pandai-pandai menilai, benarkah pasien ini benar-benar miskin, atau hanya ingin dapat murah saja. dan itulah sekelumit cerita dari kaum yang berada di wilayah sub urban.
TGIF……fun mode ON
March 28th, 2008
TGIF atau Thank God It’s Friday. Adalah ungkapan yang biasa diungkapkan para pekerja di negara barat sana, pada saat memasuki hari Jumat. Yang merupakan hari kerja terakhir di setiap minggu. Kini, saat konsep 5 hari kerja juga diterapkan di Indonesia, maka istilah TGIF pun mulai populer di sini.
TGIF bisa bermakna banyak. Semisal, saatnya kembali ke rumah, saatnya ber”party”, having fun, dan lainnya: yang asyik-asyik. Intinya melepas ketegangan yang terjadi selama 5 hari kerja. Lalu, TGIF juga berarti jam istirahat di kantor lebih lama. Kalau biasanya cuma 1 jam, khusus Jumat, karena memperhitungkan waktu sholat Jumat, maka waktu istirahat pun jadi 1,5 jam. Dan kostum kantor pun bisa lebih nyantai, bisa pakai jeans, T-shirt. Pokoknya jika TGIF mode ON, artinya fun dan asyik.
Dan kini TGIF memang sudah menjadi generik dan jadi tema maupun judul pelbagai acara yang memanfaatkan demand para TGIF. Biasanya, Jumat siang, para “pecandu” TGIF sudah saling koordinasi. Mau kemana neh kita……….Sekedar hang out di mal, cafe, berkaraoke, bowling, atau ngumpul-ngumpul anggota komunitas sesama hobi. Yang pasti, kalau hari Jumat sudah memasuki petang/malam, maka kehidupan di ibukota seperti Jakarta pun mulai menggeliat. Makin malam, jalanan justru makin macet. Mal-mal, cafe yang jadi tempat hang out penuh.
Buat gue, TGIF juga berarti asyik lah. Karena selama 2 hari ke depan gue nggak perlu bangun pagi, dan bisa full bersama 2 buntut gue di rumah, melakukan banyak hal yang agak sulit dilakukan di 5 hari tadi. Ya ajrut-ajrutan ama buntut-buntut tadi, main sepeda. Atau entertain diri sendiri, seperti  spa atau cuma creambath aja, serta menikmati rasanya punya rumah, “home sweet home”. Â
Dan sebelum memasuki 2 hari libur yang adalah hak “orang rumah”, acapkali gue juga menikmati TGIF ………..dan pulang lebih lambat dari hari-hari biasanya. Nah, kalau lagi pengin gaul yang asyik banget, ya sesekali minta ”ijin khusus”  dari Presiden Komisaris  di rumah untuk pulang lewat tengah malam. Gitu deh…………………………………..Happy weekend guys & girls…………….
Blogger, Hacker…eh ada lagi Chatter
March 27th, 2008
Hari-hari ini istilah blogger, hacker makin sering disebut-sebut. Kata mas Roy Suryo, yang ngetop sebagai pakar telematika, blogger = hacker. Lho? Iya, dalam pernyataannya di detikinet, mas ganteng itu menyebut hacker situs Depkominfo adalah kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif. Hal ini membuktikan, lanjutnya, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif.
Walah……..cilaka dua belas. Padahal, gue lagi demen-demennya jadi blogger. Kata teman-teman gue yang sudah jadi blogger veteran, blogger artinya orang yang punya personal website. Nah, kenapa punya personal website, ya pasti banyak tujuannya. Buat kasih info (macam-macam, dari keluhan sampai pamer). Ada banyak yang positif, dan ada juga yang negatif. Dan kalau orang yang punya blog, suka yang porno-porno, pasti yang di-upload dan diceritakan di blog-nya ya yang gitu-gitu deh. Tapi, ya nggak semua begitu.
Nah, kalau hacker. Katanya itu yang suka men”cacah-cacah†situs orang. Yang terbaru, situsnya Depkominfo, yang di-hack oleh hacker (bukan blogger). Definisinya aja beda. Karena, kalau hacker pastinya pinter, ngerti teknologi. Nah, kalau blogger, yang pasti suka narsis (kayak gue), nggak perlu ngerti bikin blog (bisa dibantuin kok), banyak yang benings lageeee.
Kalau udeh nyebut Blogger, Hacker, mestinya jangan lupa ama Chatter (bukan Chatter Box lho). Chatter itu orang yang hobinya Chatting, bisa via YM, Gtalk,dan masih banyak lagi alat chatting gratis di internet. Itu kan se-muhrim ama Blogger (dan kalau ngikut analogi mas Roy ya berarti hacker juga). Padahal selain sebagai blogger, gue juga demen chatting. Berarti gue blogger + chatter…….alamak masak hacker juga. Sumpah, gue kagak ngerti caranya nge-hack. Bisa terancam hukuman pula. Ngeri deh………
Ampunnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn, gue cuma ngeblog yang asyik-asyik aja, dan berguna (janji). Dan gue cuma demen chatting…..yang fun-fun aje (sesekali bergosip juga). Tambah deh, gosiper. Elo-elo apaan dong?
Selamat datang dan silaken asal-asalan.
March 26th, 2008
Terinspirasi lagu kompor meledug yang dinyanyikan almarhum Benyamin Sueb, maka lahirlah blog ini.
Gue, elo, bebas meledug di sini, keluarin uneg-uneg, curhat, asal bunyi, asal nggak SARA ye. Yang terakhir DILARANG KERAS. Udah banyak orang berantem dengan alasan kagak jelas, so biarin aje, kita nggak usah ikut-ikutan. Kita meledug-ledug di sini aje. So, silaken posting ye……………………Salam meledug.
